BANGUN PURBA, BERSAMA
Pekerja medis Rumah Sakit Umum Daerah Bangun Purba, kemarin dikabarkan sudah gajian. Tiga bulan sekaligus langsung diamprah setelah mereka mempertanyakan hak-haknya yang belum diberikan.
Tapi gaji petugas cleaning servis, supir dan security masih belum dibayar. Sudah empat bulan mereka belum diberi gaji. Sementara gaji kecil itu sangat ditunggu-tunggu oleh anak dan isterinya.
Pihak managemen tega-teganya menjual asset pemerintah berupa kusen jendela, kusen pintu, seng bekas dari renovasi bangunan rumah sakit dan rumah dinas dokter senilai jutaan rupiah.
Jasa pelayanan pekerja medis yang jatuh bangun bekerja juga tidak diberikan. Akibatnya berpengaruh kepada pelayanan masyarakat.
Tapi setelah kasus bobroknya pelayanan rumah sakit, pihak manajemen berusaha menutupi kebobrokannya dengan membuat penjelasan kepada salah satu media yang mengatakan pihak manajemen rumah sakit meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Pemutar balikan fakta ini dia kira bisa mempengaruhi aparat penegak hukum menutupi kasus kasus korupsi di rumah sakit plat merah tersebut.
Managemen juga merasa tidak bersalah memalsukan data seorang pekerja medis dari S1 Farmasi jadi bidan. Rupanya salah seorang managemen mengangkat putrinya seolah-olah bidan, agar bisa bertugas sebagai tenaga honorer.
Padahal sesungguhnya dia adalah S1 Farmasi. Sarjana farmasi sesungguhnya tidak dibutuhkan, yang dibutuhkan seorang bidan. Karena itu ijazah putrinya disulap jadi bidan.
Ini namanya tidak bermoral, kata warga. Bagaimana seorang sarjana farmasi bisa bekerja sebagai bidan. Bupati Deli Serdang, katanya, tidak mempersoalkan pemalsuan document tersebut, karena punya hubungan kekerabatan sangat dekat.
Masyarakat sangat heran kalau ada media berani memutarbalikkan fakta sebenarnya, seolah pelayanan kepada masyarakat sudah bagus.
Buktinya, belum lama ini Direktur Rumah Sakit itu, Dr Ag sudah dipecat karena diduga banyak “menghisap darah” pekerja medis Rumah Sakit Daerah Bangun Purba tersebut.
Direktur baru dr Silvia sulit bekerja membersihkan moral managemen sebelumnya. Banyak Puskesmas atau rumah sakit daerah Deli Serdang tidak maksimal memberikan pelayanan bagi masyarakat, tapi Bupati Deli Serdang terlalu sibuk dengan pencitraannya. (HB-01)