TANAH KARO, BERSAMA
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Tapteng, Sumbar dan Aceh sepertinya tak membuat pelaku penebangan kayu dan pemerintah peduli terhadap kelangsungan alam dan lingkungan.
Lihat saja yang terjadi di Kab. Karo, Sumatera Utara. Penebangan kayu di wilayah itu kian hari semakin “menggila”. Celakanya, tidak ada tindakan tegas dari pemerintah maupun polisi. 
Inilah yang membuat masyarakat yang tinggal di sekitar relokasi pengungsi Sinabung di Puncak 2000 Siosar, Kec. Tiga Panah, Kab. Karo, dihantui ketakutan akan dihantam banjir bandang dan longsor.
Warga di sana heran atas “menggilanya” penebangan kayu di daerah mereka sementara bencana banjir dan longsor baru saja terjadi di Tapteng Sumut, Aceh dan Sumbar, masih menyita perhatian banyak pihak.
Menurut informasi yang diperoleh dari warga, penebangan kayu terduga ilegal itu telah berlangsung sejak Desember 2025 sampai sekarang. “Desas desus yang beredar menyebutkan bahwa bos penebangan kayu itu berinisial UG warga sekitar Siosar juga,” kata warga yang minta namanya dirahasiakan.
Pantauan wartawan di relokasi perumahan pengungsi Gunung Sinabung di Desa Mardinding, Kec. Tiga Nderket, kayu pinus berbentuk tim terlihat menumpuk. Kabarnya kayu-kayu itu akan dijual ke sekitar kota Kabanjahe. (HB-18)