TANAH KARO, BERSAMA
Setelah bertahun-tahun “mengobok-obok” perbukitan untuk menambang dolomit di Desa Mardinding, Kec. Tiga Nderket, Kab. Karo, CV Karo Mineral Lestari dilaporkan ke Kapolda Sumut oleh Wahana Lingkungan Alam Nusantara (Walantara) Sumut karena tidak memiliki izin.
Adalah Ketua Satgas Investigasi dan Penindakan DPW Walantara Sumut, Sastra Sembiring, yang berani “unjuk gigi” demi menyelamatkan lingkungan dari perusakan alam yang dilakukan oleh tangan-tangan “setan”.
“Aneh saja rasanya kenapa penambangan tanpa izin itu bisa bebas beroperasi bertahun-tahun. Kemana polisi, dinas pertambangan maupun Gakkum LHK sehingga tambang ilegal bisa beroperasi secara mulus,” kata Sastra.
Menurutnya, semua institusi negara itu patut dicurigai telah melakukan pembiaran terhadap tambang ilegal tersebut.
“Tidak mungkin mereka tidak tahu karena sudah bertahun-tahun beroperasi. Bahkan Camat Tiga Nderket, Ali Dian Pala Purba, telah menyurati CV Karo Mineral Lestari agar menghentikan pertambangan yang tidak memiliki izin tersebut. Makanya ini kita laporkan ke Kapolda Sumut sekaligus agar ditindak tegas,” ungkapnya kepada wartawan di Mapoldasu, Selasa (24/02/2026).
Selain menyurati Kapolda Sumut, pihaknya juga akan menggelar aksi demo di Mapoldasu. Tujuannya mendesak Poldasu untuk segera menindak tegas tambang ilegal dolomit yang telah merusak alam.
“Ya, kita sudah ajukan surat pemberitahuan demo mendesak agar Poldasu segera menangkap tembang ilegal perusak alam itu,” tandas Sastra.
Sebelumnya, Camat Tiga Nderket, Ali Dian Pala Purba, telah menyurati CV Karo Mineral Lestari agar menghentikan penambangan dolomit di Desa Mardinding karena tidak memiliki izin.
Namun, sejak surat bernomor 0001.5/04/TND/2026 tertanggal 08 Januari 2026 itu dikirimkan, sampai saat ini pertambangan dolomit masih berjalan mulus.
Warga Resah
Sementara itu warga Desa Mardinding, T Singarimbun, mengaku resah dengan keberadaan tambang dolomit ilegal tersebut.
Selain merusak alam, truk-truk pengangkut tambang dolomit itu membuat jalan yang dulunya aspal mulus kini rusak berat.
“Hampir setiap hari mereka beroperasi mengakibatkan jalan rusak parah. Dan kamilah yang jadi korban setiap harinya melintasi jalan yang rusak,” kata Singarimbun.
Tim media mencoba konfirmasi kepada camat Tiga Nderket tidak berhasil karena camat sedang tidak berada di tempat. (TIM)