Duarrr..!! Adu Rudal, Perang Besar-Besaran Iran Vs As-Israel Dimulai..!!

Mencerdaskan & Memuliakan - Februari 28, 2026
Duarrr..!! Adu Rudal, Perang Besar-Besaran Iran Vs As-Israel Dimulai..!!
 - (Mencerdaskan & Memuliakan)
Editor

TEHERAN, BERSAMA

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan AS telah melancarkan “operasi tempur besar-besaran” di Iran. Israel, menurut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menjalankan operasi tersebut bersama AS untuk “menyingkirkan rezim teroris di Iran”.

Rangkaian gempuran AS dan Israel kemudian dibalas Iran dengan melesatkan rudal ke berbagai kota di Israel serta negara-negara Teluk yang menampung kekuatan militer AS.

Dalam pernyataan video sebelumnya, Trump mendesak warga Iran memanfaatkan serangan besar besaran terhadap Iran untuk menggulingkan kelompok ulama yang memerintah negara itu.

“Ketika kami selesai, ambil alihlah pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu satunya kesempatan kalian dalam beberapa generasi,” ujarnya, seperti dilansir BBC.

Ia juga mengatakan kepada anggota pasukan keamanan Iran bahwa mereka akan diberi “imunitas” apabila meletakkan senjata. Jika tetap bertempur, lanjut Trump, mereka akan “menghadapi kematian yang pasti”.

Hal senada diucapkan Netanyahu. “Waktunya telah tiba bagi seluruh kelompok masyarakat Iran—bangsa Persia, Kurdi, Azeri, Baluchi, dan Ahwazi — untuk melepaskan diri dari belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan damai,” kata Netanyahu.

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif.

“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” sebut Kemlu Indonesia.

Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan menyebut bahwa Iran mengetahui “niat” Amerika Serikat dan Israel untuk melancarkan serangan. Meski demikian, pemerintah Iran tetap memilih untuk melanjutkan proses negosiasi.

Pernyataan itu juga mengakui bahwa serangan terjadi “ketika Iran dan Amerika Serikat sedang berada di tengah proses diplomatik”.

Putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS digelar dua hari lalu, pada 26 Februari, di Jenewa, Swiss—tanpa menghasilkan terobosan.

Iran dan AS sebelumnya juga telah mengadakan lima putaran perundingan pada Mei 2025, namun tidak membuahkan kemajuan.

Putaran keenam yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2025 dibatalkan setelah Israel melancarkan serangan mendadak terhadap target target Iran, yang kemudian memicu konflik 12 hari. Saat itu, AS menggempur tiga lokasi nuklir utama Iran.

Apa yang terjadi?

Sesaat setelah pukul 09:30 waktu Teheran (13.00 WIB), kantor berita Fars di Iran melaporkan bahwa ledakan terdengar di Kota Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah, serta di ibu kota Teheran.

Di Teheran, kantor Pemimpin Tertinggi Iran serta kantor kepresidenan dilaporkan ikut menjadi sasaran.

Foto foto yang dilihat BBC menunjukkan asap membubung di kawasan Jomhouri Square dan Hassan Abad Square, Kota Teheran.

Sejumlah instalasi militer di Kermanshah, Qum, Isfahan, Tabriz dan Karaj, serta fasilitas Angkatan Laut Iran di Kenarak, wilayah selatan negara itu, juga dilaporkan terkena serangan.

Sebuah video dari kota kecil Kamyaran, di wilayah Kurdistan, menunjukkan sebuah pangkalan Korps Garda Revolusi dihantam bom.

Hingga kini belum diketahui sejauh mana jumlah korban atau luka luka. Kantor berita Tasnim menyatakan bahwa wilayah udara Iran telah ditutup sejak serangan terjadi. Di Iran, respons terhadap serangan tersebut sangat beragam.

Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan warga di dekat lokasi ledakan berlarian panik, diiringi teriakan dan tangis.

Namun pada saat yang sama, muncul pula rasa lega dan sebagian tampak merayakan serangan itu lantaran mereka meyakini bahwa kejatuhan rezim hanya bisa terjadi melalui intervensi militer.

Banyak warga telah lama menduga kemungkinan adanya serangan AS. Reaksi masyarakat Iran pun terbelah.

“Jika saya mati, jangan lupakan bahwa kami juga ada—mereka yang menolak serangan militer, mereka yang akan menjadi angka semata dalam laporan korban jiwa,” tulis seorang warga Iran di media sosial.

Apa respons Iran?

Rangkaian gempuran itu dibalas oleh Iran. Militer Israel (IDF) mengatakan telah mengidentifikasi rudal yang diluncurkan Iran menuju wilayah Israel, dan menyebut pihaknya tengah bekerja untuk “mencegat dan menindak setiap ancaman jika diperlukan.”

“Sirene berbunyi di sejumlah wilayah di seluruh negeri setelah terdeteksinya rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel,” sebut IDF. Ledakan dilaporkan terdengar di Kota Haifa dan sejumlah lokasi lain di Israel.

Warga Israel juga telah diperingatkan untuk tidak berkumpul dan tidak pergi ke sekolah maupun tempat kerja kecuali jika benar‑benar penting. Otoritas menyatakan pedoman ini berlaku hingga Senin pukul 20.00.

Media Israel juga melaporkan bahwa wilayah udara negara itu ditutup untuk penerbangan sipil.

Kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi (IRGC), menyatakan bahwa “seluruh pangkalan dan kepentingan AS di kawasan telah menjadi sasaran rudal Iran”.

Sejumlah video mulai bermunculan yang menunjukkan serangan balasan Iran di berbagai wilayah Timur Tengah, seperti di Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Yordania.

Pangkalan pangkalan udara AS yang tersebar di kawasan itu diperkirakan menjadi target militer Iran.

Di Doha, Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan telah mencegat beberapa rudal yang diduga menargetkan Pangkalan Udara al-Udeid, pangkalan militer AS yang terbesar di Kawasan Teluk.

Bahrain juga menjadi salah satu negara Teluk yang turut terkena serangan. Pemerintah Bahrain mengatakan pusat layanan Armada Kelima Angkatan Laut AS “menjadi sasaran serangan rudal”. Armada tersebut bertanggung jawab atas operasi AL AS di kawasan Teluk, Laut Merah, Laut Arab, dan sebagian Samudra Hindia.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab dalam sebuah pernyataan menyebut negaranya mengalami “serangan terang-terangan yang melibatkan rudal balistik Iran”.

Angkatan Udara AS beroperasi dari Pangkalan Udara Al Dhafra, di selatan Abu Dhabi, bersama Angkatan Udara UEA.

Apa yang dikatakan Trump?

Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah memulai “operasi tempur besar besaran” di Iran. Dia menuduh rezim Iran menjalankan “kampanye tanpa akhir berupa pertumpahan darah dan pembunuhan massal yang menargetkan Amerika Serikat”.

Presiden AS itu merilis sebuah video di Truth Social, tak lama setelah ledakan dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran.

• Trump mengatakan Iran “tidak boleh memiliki senjata nuklir” dan menjelaskan bahwa itulah alasan Operasi Midnight Hammer menghantam fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz dan Isfahan.

• Dia mengklaim Iran menolak setiap peluang untuk menghentikan ambisi nuklirnya dan terus mengembangkan rudal jarak jauh yang dapat mengancam sekutu AS di Eropa, pasukan AS di luar negeri, dan “segera dapat menjangkau daratan Amerika”.

• Trump mengatakan AS akan menghancurkan industri rudal Iran “sampai ke tanah” dan “membinasakan” angkatan laut negara itu.

• Dia menambahkan bahwa rezim Iran telah meneriakkan slogan “Kematian bagi Amerika” selama 47 tahun.

• “Nyawa para pahlawan Amerika yang gagah berani mungkin akan hilang, dan kita mungkin akan mengalami korban,” ujarnya.

• “Waktu bagi kalian untuk meraih kebebasan telah tiba,” kata Trump kepada rakyat Iran, sambil menyerukan mereka untuk “mengambil alih pemerintahan kalian”

Apa respons Indonesia?

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.

Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi.

Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.

Menurut Kemlu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif.

“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” sebut Kemlu Indonesia.

Mengenai nasib WNI, Kemlu mengimbau para WNI di wilayah terdampak tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat. (***)

Tinggalkan Komentar

Tag

close
Banner iklan disini