BANGUN PURBA, BERSAMA
Seratusan orang pekerja medis yang sehari-hari bekerja di Rumah Sakit Umum Bangunpurba, kini statusnya tidak jelas.
Selama ini mereka dipekerjakan sebagai tenaga honorer ada yang sudah empat tahunan, tapi tidak dimasukkan sebagai PPPK.
Bahkan dalam bulan ini nasib mereka tidak jelas lagi apakah masih tetap sebagai tenaga honorer. Sebab SK pengangkatan yang baru belum ada, bahkan BPJS mereka sudah distop.
Direktur RS mengatakan akan membicarakannya dengan Bupati Deli Serdang. Dua orang kawan mereka sudah diberhentikan .
Tapi para pekerja medis itu masih tetap menjalankan tugasnya seperti biasa.
Seperti pernah diungkapkan oleh media ini, pekerja medis di Rumah Sakit milik Pemkab DELI Serdang, umumnya tenaga honorer, kecuali pihak management dari kalangan ASN.
Akhir-akhir ini para pekerja medis yang bekerja siang malam nasibnya tidak jelas. Jasa pelayanan yang dulunya diberikan, sekarang tidak ada.
Makan siang dulu disediakan pihak managemen, sekarang hanya kalangan managemen saja yang disediakan makannya.
Setahu mereka, dana APBD Deli Serdang masih ada mengalir ke rumah sakit untuk biaya peningkatan fasilitas, gedung, pagar, perawatan ambulance dan banyak lagi.
Tapi anggaran itu hanya dinikmati pihak managemen, bahkan diduga sebagian besar dikorupsi oleh pihak managemen.
Contohnya perawatan ambulance yang disediakan Rp40 juta. Dilaporkan mobil ambulance itu sudah diservice. Ternyata masih tetap seperti sebelum diservice.
Kemarin, ketahuan mobil itu belum diperbaiki, ketika digunakan untuk membawa jenazah. Roda tempat tidur di dalam ambulan masih rusak. Saat jenazah didorong, roda tidak berputar sehingga jenazah terjatuh.
Hebohlah, ternyata jenazah itu telah membongkar tabir penyelewengan dana APBD DS di rumah sakit plat merah itu.
Keluarga korban sangat terkejut kenapa jenazah itu bisa terjatuh. Tapi pekerja medis tampak bisik -bisik kepada sesama rekannya membisikkan, bukankah mobil ambulance itu sudah diservice..?
Dulu pun sempat heboh karena barang bekas bongkaran rumah sakit itu bisa dijualkan oleh oknum managemen. Padahal itu sudah jadi asset pemerintah.
Laporan sudah sampai kepada bupati Deli Serdang tapi tidak ada tindakan apapun terhadap pelaku. Malah direktur yang diganti.
Bupati juga mengganti KTU belum lama ini, tapi itupun setali tiga uang, tidak mampu merubah keadaan. Kabarnya suami KTU itu seorang rekanan kawan dekat bupati.
Banyak sekali borok -borok pihak managemen berbau korupsi yang masih dibungkus rapi, termasuklah biaya operasional, biaya revitalisasi gedung dan uang jasa pelayanan bagi para pekerja medis.
Untung saja ratusan pekerja medis itu masih konsekwen melakukan tugas kemanusiaan. Kalau sempat mereka mogok bekerja, situasi bakal heboh. (HB-01)