<span;>DELI SERDANG, BERSAMA
<span;>Seorang ibu rumah tangga (IRT), warga Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang bernama S Rahayu merasa kecewa dengan kinerja Polresta Deli Serdang.
<span;>Pasalnya, laporan dugaan penganiayaan yang dialami anaknya berinisial AWS yang sekarang duduk kelas 3 SMA hampir 2 tahun mendek sejak tahun 2024.
<span;>Hingga saat ini terduga pelaku yang hampir menewaskan anaknya belum ada yang berhasil ditangkap polisi.
<span;>Padahal, anaknya saat itu hampir tewas setelah digebuki beramai-ramai hingga dibacok.
<span;>”Kami kecewa sekali karena hampir 2 tahun belum terungkap dan tidak ada yang ditangkap. Padahal anak saya hampir meninggal akibat dianiaya,”kata S Rahayu, Kamis (06/8/2026).
<span;>Rahayu menjelaskan, kondisi anaknya kini mulai berangsur memembaik. Luka bacok di kepala membuat tempurung harus dioperasi dan sempat koma.
<span;>Meski begitu, mereka masih menuntut keadilan atas peristiwa yang terjadi pada Minggu 8 September 2024 lalu.
<span;>Ia menceritakan, penganiayaan terhadap anaknya bermula ketika AWS pergi ke pasar malam bersama rekannya menggunakan sepeda motor dengan posisi korban dibonceng.
<span;>Begitu hendak pulang, di Jalan Perintis Kemerdekaan, Desa Bangun Purba, Kecamatan Bangun Purba, korban dicegat sekelompok orang diduga geng motor bersenjata tajam.
<span;>Karena takut, lantas mereka tancap gas mencoba melarikan diri. Namun nahas, balok dan tebasan senjata tajam begitu cepat melesat ke kepala korban dan rekannya hingga akhirnya mereka terjatuh.
<span;>Korban, dengan luka bacok berusaha melarikan diri menyelamatkan nyawanya. Tapi nahas, korban pingsan tak sadarkan diri, dan menjadi bulan-bulanan.
<span;>”Karena takut, lewat aja, dibacok anakku itu dan kawannya yang di depan dipukul pakai kayu balok,” ujarnya.
<span;>Warga sekitar pun berusaha menyelamatkan korban,l dan langsung membawanya ke Puskesmas.
<span;>Tapi karena lukanya cukup parah, korban AWS dirujuk ke rumah sakit yang ada di Kecamatan Lubuk Pakam.
<span;>Rahayu mengatakan, pihaknya baru tahu kabar anaknya dikeroyok saat sudah dibawa ke rumah sakit.
<span;>Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, anaknya terpaksa operasi tempurung kepala.
<span;>”Luka bacok di kepala, tempurungnya itu pecah dan sekarang pakai tempurung palsu. Selain itu semua mukanya keseret aspal dan hancur semua, luka semua tangan, kaki, leher,” bebernya.
<span;>Utang ke Bank
<span;>Rahayu menjelaskan, karena anaknya menjadi korban tindak pidana, biaya operasi di rumah sakit tidak ditanggung BPJS.
<span;>Mereka terpaksa membayar biaya rumah sakit secara umum. Total biaya yang dikeluarkan untuk menyelamatkan nyawa anaknya mencapai Rp 130 juta.
<span;>Karena tak punya uang sebanyak itu, mereka terpaksa meminjam uang ke bank Rp 100 juta.
<span;>Utang ke bank sampai saat ini belum lunas karena pinjaman itu dicicil selama 5 tahun, perbulannya Rp 2 juta.
<span;>Saat ini mereka berharap agar Polresta Deli Serdang menangkap pelaku yang hampir menewaskan anaknya.
<span;>”Kami urus ambil uang bank kami.
<span;>100 juta jangka 5 tahun, perbulannya 2 juta.
<span;>Belum lunas berarti sampai sekarang, Masih 2 tahun.”
<span;>Terpisah, Kapolresta Deli Serdang, Kombes Hendria Lesmana dan Kasat Reskrim, Kompol Isral belum merespon terkait laporan warga mandek.
<span;>Keduanya juga belum menjawab apa kendala yang dialami sehingga belum ada pelaku yang diamankan. (HB-03)